Drama Musikal Sang Kuriang : Legenda Tatar Sunda Dalam Nuansa Kontemporer

Drama Musikal Sang Kuriang : Legenda Tatar Sunda Dalam Nuansa Kontemporer

Liputan Budaya 6 Februari 2013

Cerita Rakyat Sangkuriang yang dipercaya sebagai asal usul Gunung Tangkuban Perahu di Lembang, Bandung, memang sudah sangat dikenal oleh masyarakat. Kisah yang sama telah turun temurun diceritakan di pelosok Jawa Barat, bahkan meluas hingga ke daerah-daerah lain. Seakan memberikan nafas baru pada cerita lama, Djarum Apresiasi Budaya bekerja sama dengan Paduan Suara Universitas Katolik Parahyangan mempersembahkan “Drama Musikal Sang Kuriang” yang digelar pada tanggal 1-3 Februari 2013 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Pementasan ini digawangi oleh sutradara Wawan Sofwan didukung oleh Avip Priatna sebagai direktur musik dan Dian HP selaku komposer. Drama musikal ini juga didukung sederet pemain berbakat seperti Sita Nursanti yang dikenal sebagai sebagai salah satu penyanyi papan atas Indonesia yang berperan sebagai Dayang Sumbi, Farman Purnama dan Gabriel Harvianto memerankan tokoh Sang Kuriang, serta pemain pendukung lainnya yang tak perlu lagi diragukan kemampuannya.

Dikembangkan dari Libretto (naskah musikal) karya sastrawan Almarhum Utuy Tatang Sontani yang meninggal pada tahun 1979, pementasan tersebut terasa tetap aktual dan modern. Tak hanya tokoh maupun alur cerita yang dikemas berbeda dari versi tradisional, sentuhan tangan dingin Avip Priatna dan Dian HP juga berkontribusi besar dalam menghadirkan nuansa musik opera sepanjang pertunjukan. Selain itu tata artistik panggung yang digarap oleh Sunaryo serta desain kostum yang ditangani oleh desainer Deden Siswanto juga turut berperan serta menjadikan naskah dari khasanah lama tersebut menjadi begitu menarik untuk dinikmati.

“Djarum Apresiasi Budaya, tidak hanya konsisten dengan pelestarian budaya Indonesia, namun juga sangat mendukung pengembangannya. Drama Musikal Sang Kuriang merupakan perpaduan dua tradisi antara kisah legenda tradisional Jawa Barat dengan balutan musik ala opera yang identik dengan kebudayaan klasik Eropa. Melalui perpaduan budaya dalam pertunjukan ini, kita belajar untuk membuka diri dengan kebudayaan luar tanpa menghilangkan akar dan identitas kita sebagai bangsa Indonesia,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Tentang jalan cerita Drama Musikal Sang Kuriang, Wawan Sofwan selaku sutradara menjelaskan, “Sang Kuriang adalah legenda masyarakat Sunda yang sudah diceritakan sejak dahulu dari generasi ke generasi. Dikenal juga sebagai asal-usul gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Kami ikut bangga dapat menceritakan kembali kisah Sang Kuriang karya almarhum Utuy Tatang Sontani. Bagian akhirnya memang dibuat berbeda dengan kisah yang diceritakan turun temurun, karena almarhum Utuy Sontani hendak melanjutkan cerita pusaka ini dalam bentuk dan cara penyampaiannya sendiri”.

Memang ada perbedaan antara cerita Sang Kuriang yang diterjemahkan oleh Utuy dengan kisah legenda yang kita kenal. Perbedaan itu antara lain mengenai karakter si Tumang yang bukan seekor anjing seperti dalam versi tradisional, melainkan seorang budak miskin, cacat, bongkok, dan buruk rupa. Dalam kisah ini, Sang Kuriang juga tidak menendang perahu menjadi gunung, dan di akhir cerita, Dayang Sumbi juga tidak berubah menjadi bunga jaksi, tetapi justru dia bunuh diri untuk menolak menjadi istri Sang Kuriang. Akhirnya Sang Kuriang juga menyusul kematian Dayang Sumbi dengan bunuh diri juga. Hal ini membuat kisah Sang Kuriang berakhir lebih tragis. Utuy juga sengaja memberi judul naskahnya 'Sang Kuriang' (bukan Sangkuriang), yang dimaksudkan sebagai 'Sang Dewata'.

Selama pertunjukan, penonton terhanyut dan terpana oleh sajian vokal indah dan prima dari Sita Nursanti sebagai Dayang Sumbi, dan Farman Purnama (bergantian dengan Gebriel Harvianto) sebagai Sang Kuriang. Ekspresi perasaan masing-masing tokoh yang disuarakan lewat nyanyian terasa semakin membuai. Apalagi para pemain mampu memberi tekanan-tekanan emosi dalam setiap nada sesuai dengan maksud naskahnya. Kekompakan dan harmonisasi vocal yang disajikan Paduan Suara Universitas Katolik Parahyangan juga sangat memikat. Secara menyeluruh, pertunjukan ini mampu menghipnotis penonton dari tiap adegan demi adegan.

Di dalam kisah-kisah legenda daerah di Indonesia tersimpan nilai-nilai luhur serta ajaran-ajaran moral yang berakar dari sejarah setempat. Melalui Drama Musikal Sang Kuriang, Djarum Apresiasi Budaya bersama dengan Paduan Suara Universitas Katolik Parahyangan berusaha membangkitkan kembali ingatan masyarakat tentang kisah-kisah daerah agar dapat diteruskan ke generasi selanjutnya. Mencintai budaya adalah wujud rasa bangga dan cinta kita terhadap Indonesia. Karena yang menyatukan bangsa adalah budaya. Cinta Budaya, Cinta Indonesia.