Indonesia Kaya App

Aplikasi untuk penikmat
budaya Indonesia

Unduh Gratis
Komunitas Seni Samar Mempersembahkan Bregada Merudhandha

Komunitas Seni Samar Mempersembahkan Bregada Merudhandha

Liputan Budaya 6 Maret 2019
Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis PO. BOX 53 Bae, Kudus

Komunitas Seni Samar yang di dukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation menggelar pertunjukan dan diskusi kebudayaan yang bertajuk Bregada Merudhandha di Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis PO. BOX 53 Bae, Kudus, pada hari Rabu, 6 Maret 2019.

Naskah pertunjukan ini merupakan karya Leo Katarsis, dengan Sutradara Ahmad ‘Mophet’ Safrudin. Sebuah eksplorasi teatrikal, perpaduan antara  seni drama klasik (tradisi) dan modern, dengan tarian, nyanyian, serta iringan live musik  yang menghasilkan sebuah karya eksperimental. Dibawakan secara cair dengan gaya ‘Sampakan’ ala Komunitas Seni Samar tentunya, dimana para aktor secara luwes, kocak, spontan dan keluar masuk berimprovisasi dalam karakter peran atau diri sendiri. 

Bregada Manyura adalah pasukan pilihan Medhang Bhumi Mataram. Pengabdi setia Ratu Sanjaya, dipimpin oleh seorang Panglima digdaya, Hang Anggana saudara sepupu Ratu sanjaya, satu keturunan dari Ratu Shima. 

Saat mendengar kabar rencana pemberontakan Raja Sunda-Galuh, Ratu Sanjaya murka. Dia perintahkan Anggana menumpas pemberontakan itu. Bregada Manyura segera berangkat menuju Kerajaan Sunda-Galuh. Sepeninggalan Anggana, tanpa diduga Istana Medhang diserbu pasukan Sriwijaya. Usai memadamkan pemberontakan, Anggana dan pasukannya bergegas kembali ke Medhang. Prajurit Sriwijaya berhasil dipukul mundur dan digiring menuju Selat Muria. Kapal-kapal mereka dibakar dan ditenggelamkan. 

Kemenangan Anggana dan pasukannya menjadi tidak berarti karena ternyata Ratu Sanjaya gugur dalam penyerbuan pasukan Sriwijaya. Anggana sangat berduka, Dia kehilangan saudara, sahabat dan tujuan pengabdiannya.
 
Anggana kemudian meninggalkan Kerajaan Medhang kembali ke Tanah Muria, diikuti Bregada Manyura yang tersisa. Mereka mensucikan diri, melakukan semedi Merudhandha. Anggana menjalani hidup selanjutnya sebagai orang biasa dan pasukannya menyebar dari Tanjung Para sampai Teluk Silugangga, menjaga Tanah Muria. Daerah itu kemudian dikenal dengan nama Rananggana. Setiap tahun mereka berkumpul mengadakan upacara agung “Merudhandha”.

Komunitas Seni Samar berdiri pada 1 maret 1998, di BIPP (Balai Informasi dan Penyuluhan Pertanian  yang sekarang beralih fungsi menjadi Taman Ternak Kudus) Desa Besito kecamatan Gebog Kudus. Dalam perjalanannya, Komunitas Seni Samar beranggotakan beragam latar belakang, dari anak sekolah, mahasiswa, petani, pedagang, security, tukang jahit, buruh pabrik buruh bangunan yang secara rutin berproses kreatif, menghasilkan karya – karya yang dapat di apreasiasikan pada masyarakat.

Semoga kegiatan ini mampu memberikan inspirasi kepada masyarakat terutama generasi muda untuk terus berkarya serta meningkatkan rasa cinta dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Mencintai budaya adalah wujud rasa bangga dan cinta kita terhadap Indonesia, karena yang menyatukan bangsa adalah budaya. Cinta Budaya, Cinta Indonesia.