Indonesia Kaya App

Aplikasi untuk penikmat
budaya Indonesia

Unduh Gratis
"Kumolo Bumi" Romansa Cinta Dalam Kisah Peperangan

"Kumolo Bumi" Romansa Cinta Dalam Kisah Peperangan

Liputan Budaya 11 Oktober 2019
Gedung Kesenian Jakarta

Menandai 43 tahun perjalanannya, di tahun 2019 ini Padnecwara yang djuga didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation mempersembahkan sebuah pertunjukan tari "Kumolo Bumi", karya Rury Nostalgia, di Gedung Kesenian Jakarta pada 11 – 12 Oktober 2019. Karya ini diangkat dari salah satu bagian dari Kitab Menak yang bertajuk "Menak Cina" yang mengisahkan pertarungan dahsyat antara Adaninggar, putri dari Cina dan Kelaswara, putri dari Kelan. Bahkan jika ditelisik lebih jauh, kisah ini merupakan sebuah roman klasik yang konon sumbernya berasal dari tempat dan waktu yang sudah sangat jauh, yakni Persia (dari kitab Qissai Emr Hamza, dibuat pada zaman pemerintahan Sultan Harun Al-Rasyid (766 – 809).

Rury mengungkapkan, "Kisah peperangan penuh romansa cinta yang terjadi antara Adaninggar dan Kelaswara, sudah menarik perhatian saya sejak lama. Kisah klasik dari sebuah naskah Jawa, "Serat Menak Cina" yang ditulis oleh Yoyodipuro I ini seolah mengajak saya untuk berdialog panjang tentang apa itu cinta, dengan sederet pertanyaan yang juga sudah klasik, haruskah cinta itu berarti memiliki?" Lebih lanjut Rury pun menyatakan, "Cinta merupakan salah satu wujud keberkahan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada kita. Dalam hidup ini, bagi saya, semuanya memang lahir dari cinta. Kita bisa saja, memiliki kekuasaan besar harta berlimpah, anak yang banyak, tetapi, jika itu tidak dilandasi cinta, semuanya sia-sia. Cinta  adalah karunia yang tak ternilai." Dalam perjalannya berkarya dalam dunia seni tari, Rury pernah menggubah kisah tersebut sebagai sebuah pementasan tari berjudul "Kelaswara Tanding". Namun, kisah Adaninggar-Kelaswara memang tak akan pernah bisa tuntas diinterpretasi, maka muncullah "Kumolo Bumi" (Permata Bumi).

Selain Kumolo Bumi, dalam pertunjukan kali ini juga menampilkan  tari Retno Pamudya karya: R.T. Kesoemokesowo. Dalam tarian ini dikisahkan Tari Retno Pamudya adalah menceritakan kepahlawanan Srikandi. dalam menghadapi Bisma. Sosok seorang putri yang terampil memainkan senjata berupa panah dengan lincah, cukat dan trengginas. Namun tidak lepas dari kodratnya sebagai wanita, yang masih memperhatikan kelembutan, kehalusan dan kesabaran.

Tahun 2019 merupakan tahun ke-43 bagi Padneçwara, kelompok kesenian yang bersetia pada seni tradisional, khususnya Tari Jawa, yang dipimpin oleh Retno Maruti. Sejak hadirnya Padneçwara di tahun 1976 yang diawali dengan pertunjukan "Damarwulan", hingga kini Padneçwara senantiasa menampilkan karya baru maupun karya yang dipentaskan ulang untuk dipersembahkan kepada Indonesia, khususnya para penikmat seni tradisional.

Bentuk langendrian (kesenian Jawa yang berbentuk drama tari) yang menjadi salah satu ke-khas-an pertunjukan tari oleh Padneçwara, selalu menjadi daya tarik tersendiri, di samping kekuatan karya Retno Maruti dalam mengemas kisah-kisah yang berakar dari dunia pewayangan maupun legenda, serta gemulai para penari pilihan. Sejumlah karya master piece Retno Maruti yang telah dipergelarkan antara lain: Abimanyu Gugur (karya  tahun 1976), Roro Mendut (1977), Sekar Pembayun (1979), Dewabrata (1997), Bedoyo Legong Calonarang (2006) yang merupakan kolaborasi Retno Maruti dengan Bulan Trisna Djelantik, Kidung Dandaka (2016), dan Dewabrata (2018).

Semoga kegiatan ini mampu memberikan inspirasi kepada masyarakat terutama generasi muda untuk terus berkarya serta meningkatkan rasa cinta dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Mencintai budaya adalah wujud rasa bangga dan cinta kita terhadap Indonesia, karena yang menyatukan bangsa adalah budaya. Cinta Budaya, Cinta Indonesia.