Program Indonesia Kita 2018, "Preman Parlente"

Program Indonesia Kita 2018, "Preman Parlente"

Liputan Budaya 2 Maret 2018
Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Program Indonesia Kita kembali hadir di tahun 2018, kali ini dengan tema Budaya Pop: Dari Lampau ke Zaman Now. Didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, tema ini hadir perdana pada bulan Maret 2018 dalam lakon Preman Parlente yang diselenggarakan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada tanggal 2-3 Maret 2018.

“Sejak tahun 2011, Indonesia Kita melalui pementasan-pementasan yang diadakan telah menjadi ruang kreatif bagi berbagai seniman di lintas bidang, kultural dan generasi.  Dengan tema pementasan yang menarik setiap tahunnya, Indonesia Kita mampu menarik perhatian masyarakat Indonesia di lintas bidang dan generasi pula. Dalam pentas perdananya di tahun 2018, Indonesia Kita juga menggandeng para seniman Batak untuk bersama-sama memelihara semangat dan rasa cinta bagi Indonesia melalui jalan kebudayaan,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Budaya Pop: Dari Lampau ke Zaman Now dirumuskan oleh tim kreatif Indonesia kita yaitu Butet Kartaredjasa, Agus Noor dan Djaduk Ferianto yang ingin berpendapat bahwa kebudayaan, dengan seluruh hasil karya ciptanya, sesungguhnya sebuah proses penciptaan yang terus-menerus berlangsung, mengikuti pola pikir masyarakatnya. Di setiap era, selalu muncul tafsir, bentuk, ungkapan, bahkan ekspresi-ekspresi baru yang tak bisa dilepaskan dari proses mengolah kebudayaan yang diwariskan sebelumnya.

Demikian pula dengan karya seni yang terus-menerus diciptakan dengan mengolah dan menafsir karya-karya lama, dengan gaya dan tren yang mengikuti zamannya. Selaku tim kreatif dan sutradara pementasan Preman Parlente, Agus Noor mengatakan, “Seni selalu membuka dan memberi ruang untuk kreativitas, sehingga masyarakat dapat berekspresi untuk merayakan perubahan. Budaya pop sering dilihat sebagai ekspresi yang menandai perubahan itu.”

“Kesenian yang tumbuh di wilayah budaya pop, dengan caranya yang unik seringkali memperlihatkan proses kreativitas sebuah generasi dalam menanggapi perubahan zaman, sekaligus kehendak untuk mengolah tradisi agar terus relevan dengan situasi zaman. Budaya pop, pada akhirnya sebuah proses yang menandai penciptaan kembali atas apa yang sudah lampau, sehingga tetap punya daya pesona yang memikat,” tambah Agus Noor.

Proses seperti itu, dengan sendirinya sejalan dengan identitas bahasa, di mana  setiap generasi dapat mengekspresikan keinginannya, dengan bahasa dan gaya masing-masing. Budaya pop adalah suara zaman yang menandai kegelisahan dan pencarian. Budaya pop tak hanya soal mengemas ide menjadi lebih populer, tetapi juga sebuah cara sebuah generasi mengidentifikasi diri dan persoalan zamannya.

Pementasan Preman Parlente dimeriahkan oleh penampilan Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Mery Sinaga, Louise Sitanggang, Flora Simatupang, Alsant Nababan, Trio GAM (Joned, Wisben & Dibyo Primus), OBAMA (Orang Batak Marlawak), Sigma Dance Theatre Indonesia, Siantar Rap Foundation, dan Vicky Sianipar Ethnic Ensemble. Tampilan artistik panggung oleh Ong Hari Wahyu dan gerak tari yang dikoreografi oleh Benny Krisnawardi, dan disutradarai oleh Agus Noor dengan tim kreatif Butet Kartaredjasa, Agus Noor, Djaduk Ferianto, Viky Sianipar, dan Paulus Simangunsong.

Berkisah tentang kisah cinta sepasang kekasih, Ucok dan Butet, dengan segala lika likunya. Ucok adalah seorang preman yang sangat mencintai seorang perempuan bernama Butet. Ucok dikenal sebagai penipu ulung. Tapi dalam soal cinta, Ucok tak pernah berani berbohong. Ada dua hal dalam hidup Ucok yang tak pernah mau dilakukan Ucok, yaitu berbohong pada pacarnya dan pada ibunya.

Suatu ketika Butet dan Ucok datang ke Samosir. Di Samosir, ada situasi tak terduga. Seorang investor besar ingin menguasai kawasan wisata untuk dijadikan resort mewah. Sang investor menugaskan anak buahnya untuk membujuk dan menghasut warga agar mau menjual tanah mereka. Di Samosir, ada pemuda-pemuda baik, ada pula pemuda-pemuda preman. Sang investor mencoba memberi janji-janji kepada para preman untuk mengumpulkan kekuatan dan menguasai warga. Kekuatan uang sang investor akhirnya bisa membuat para preman mendukung tujuan sang investor.

Kedatangan Ucok ke Samosir dijadikan jalan untuk mencapai tujuan sang investor dengan cara melakukan konspirasi jahat, Ucok difitnah dan dianggap kedatangannya ke Samosir semata-mata ingin menguasai wilayah kekuasaan mereka. Sang investor juga mencoba merayu Butet dengan cinta dan harta. Pertentangan Ucok dan sang investor tak terhindarkan. Sang investor membuat situasi sehingga terbongkar bahwa sesungguhnya Ucok bukanlah pengusaha sukses melainkan seorang preman dan penipu ulung, sehingga membuat Butet sangat terpukul dan ingin meninggalkan Ucok.

Akhirnya, buah dari kejujurannya pun datang. Ucok akhinya direstui untuk menikah dengan Louise setelah ibunya percaya dan bangga dengan kejujuran dan keberanian Ucok Lontong, membongkar kejahatan yang dilakukan Marwoto.

Berkat kejujuran dan keberanian Ucok Lontong, kedok Marwoto yang berpura-pura menjadi Caleg, padahal ingin menguasai tanah di Samosir pun akhirnya terbongkar dan gagal, sehingga tanah tersebut  tidak jadi dikuasai oleh investor nakal.

Semoga kegiatan ini mampu memberikan inspirasi kepada masyarakat terutama generasi muda untuk terus berkarya serta meningkatkan rasa cinta dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Mencintai budaya adalah wujud rasa bangga dan cinta kita terhadap Indonesia, karena yang menyatukan bangsa adalah budaya. Cinta Budaya, Cinta Indonesia.