SWAJIWANITA : Pertunjukan Kolaborasi Tari, Teater, Bahasa Walikan

SWAJIWANITA : Pertunjukan Kolaborasi Tari, Teater, Bahasa Walikan

Liputan Budaya 5 Mei 2018
Gedung Kesenian Gajayana Jalan Nusakambangan 19 Kota Malang.

Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Malang ke -104 dan sebagai wujud penguatan komunikasi jejaring antar komunitas seniman muda di Kota Malang, Lingkung Seni Limau Ranum Kota Malang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation menyelenggarakan pertunjukan Kolaborasi Tari, Teater, Bahasa Walikan berjudul “SWAJIWANITA”. Pertunjukan dilaksanakan pada Sabtu, 5 Mei 2018, pukul 18.00 di Gedung Kesenian Gajayana Jalan Nusakambangan 19 Kota Malang.

Karya ini merupakan sebuah apresiasi dari segenap pendukung sebagai bentuk kecintaan terhadap Bumi Malangkucecwara. Pemilihan cerita terinspirasi dari semangat perjuangan dan kisah romansa pasangan Hamid Rusdi dan Siti Fatimah. Meskipun latar cerita terjadi pada masa perjuangan, namun dalam penyajiannya, karya ini dikemas dalam bentuk yang kekinian. Kisah ini membawa kita pada perenungan tentang apa arti perjuangan yang sesungguhnya. Bukan sekedar berperang tetapi juga berkorban dan teguh dalam kesetiaan.

Hamid Rusdi adalah pahlawan kemerdekaan yang berasal dari Malang. Saat dewasa, Hamid Rusdi tumbuh menjadi sosok yang sangat mencintai negeri dan berjuang dengan segenap jiwa raga. Hamid Rusdi juga menciptakan bahasa walikan yang saat ini menjadi bahasa khas Malang. Asal usul dari bahasa ini berawal dari kata sandi saat melawan Belanda di Agresi Militer II.

Geetrada Josephine Schwarz, istri Hamid Rusdi, adalah seorang perempuan yang lahir dari keluarga Belanda-Jawa. Ia memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Siti Fatimah setelah menikah dengan Hamid pada tahun 1946.

Tiga tahun setelah pernikahan mereka yang jauh dari damai itu, Hamid berpesan pada Siti untuk selalu menjaga diri dan rajin beribadah saat berpamitan untuk bertugas. Rupanya itu adalah pesan terakhir Hamid untuk istrinya. Hamid dan empat kawannya gugur ditembak oleh Belanda di pinggir sungai Wonokoyo, Kedungkandang, Malang. Ia gugur sebagai pahlawan.

Semoga kegiatan ini mampu memberikan inspirasi kepada masyarakat terutama generasi muda untuk terus berkarya serta meningkatkan rasa cinta dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Mencintai budaya adalah wujud rasa bangga dan cinta kita terhadap Indonesia, karena yang menyatukan bangsa adalah budaya. Cinta Budaya, Cinta Indonesia.