Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan Berbagi Pengalaman Membuat Proposal Seni Pertunjukan Secara Komunikatif Dan Representatif

Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan Berbagi Pengalaman Membuat Proposal Seni Pertunjukan Secara Komunikatif Dan Representatif

Liputan Budaya 12 Februari 2018
GEOKS Art Space, Sukawati, Gianyar, Bali

Kemampuan mengomunikasikan suatu gagasan seni, baik karya, acara, wacana maupun program adalah hal yang penting dalam kehidupan seni, khususnya seni pertunjukan. Berangkat dari hal tersebut, Bakti Budaya Djarum Foundation bekerja sama dengan Garin Workshop dan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) menyelenggarakan program Ruang Kreatif dengan tema Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan, dengan materi berbagi pengalaman tentang proposal seni pertunjukan bersama Butet Kartaredjasa dan Jeannie Park.

Workshop diselenggarakan di 4 kota, dengan jadwal sebagai berikut :
Tanggal 12 Februari 2018 di GEOKS Art Space, Sukawati, Gianyar, Bali.
Tanggal 14 Februari 2018 di Universitas Negeri Malang.
Tanggal 18 Februari 2018 di Djarum Oasis Kretek Factory, Kudus.
Tanggal 20 Februari 2018 di Institut Seni Indonesia, Padang Panjang.

“Workshop ini ditujukan secara khusus bagi pengelola atau pimpinan produksi seni pertunjukan. Pimpinan produksi merupakan ujung tombak dalam perwujudan gagasan artistik sang kreator atau sutradara. Pimpinan produksi juga menjadi seseorang yang akan mengatur, dan mengontrol agar sebuah pertunjukan dapat berjalan baik dan lancar. workshop manajemen produksi ini menghadirkan bincang-bincang, diskusi dua arah untuk saling berbagi pengetahuan terkait dengan komunikasi dan kemitraan,” ujar Jeannie Park, Direktur Eksekutif di Yayasan Bagong Kussudiardja.

Untuk mengikuti rangkaian Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan, para peserta dapat mengirimkan contoh proposal seni pertunjukan, mengisi formulir, lalu dikirim melalui email ke ruangkreatif@indonesiakaya.com.

“Seorang seniman dapat memiliki gagasan menarik tentang pertunjukan seni. Namun apabila hal tersebut tidak dibarengi dengan penyusunan proposal dan penyampaian komunikasi yang baik kepada para mitra maka ide tersebut akan sia-sia. Bagi saya, kemampuan berkomunikasi lisan maupun tulisan, dan kesungguhan pada apa yang dilakukan menjadi sesuatu yang penting untuk dikuasai di bidang seni, khususnya seni pertunjukan. Sebagai pelaksana, mitra penonton dan mitra pendukung seperti sponsor atau mitra kerja sama lain, komunikasi selalu menjadi garda terdepan, seni pertunjukan,” terang Butet Kartaredjasa dalam konferensi pers Workshop Manajemen Produksi Seni Pertunjukan di Djarum Oasis Kretek Factory, Kudus.

Pentingnya media komunikasi serta proposal yang baik dalam seni pertunjukan diulas dan didiskusikan bersama kepada para peserta workshop. Sebagai Direktur Eksekutif di Yayasan Bagong Kussudiardja, kepiawaian Jeannie Park dalam membangun sinergi antara seni, seniman, dan masyarakat telah terbukti dengan terus berkembangnya PSBK sebagai art centre di Yogyakarta. Jeannie Park membagikan beberapa konsep dibalik pengembangan program PSBK serta organisasinya.

“Bersama Butet Kartaredjasa dan Jeannie Park, workshop ini merupakan ruang untuk berbagi pengalaman mengenai cara pembuatan proposal seni pertunjukan yang komunikatif dan representatif. Komunikasi yang tertata akan berpengaruh pada perencanaan, pelaksanaan, untuk membangun kemitraan dengan banyak pihak. Tidak hanya berbagi pengalaman, program ini juga fokus pada proses penyusunan pemikiran, mengasah kemampuan bicara dan strategi penyampaian gagasan dalam waktu yang singkat. Kami harap, para peserta yang hadir dapat memahami informasi yang diberikan serta dapat diterapkan di kemudian hari untuk kemajuan komunitasnya masing-masing,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Semoga kegiatan ini mampu memberikan inspirasi kepada masyarakat terutama generasi muda untuk terus berkarya serta meningkatkan rasa cinta dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Mencintai budaya adalah wujud rasa bangga dan cinta kita terhadap Indonesia, karena yang menyatukan bangsa adalah budaya. Cinta Budaya, Cinta Indonesia.