Cerita @HappySalma: Perihal Mencipta Kembali Sebuah Ciptaan

Cerita @HappySalma: Perihal Mencipta Kembali Sebuah Ciptaan

Oleh : Happy Salma

BISA dibilang, sebagai seniman saya hidup dan dibesarkan oleh alam lingkungan disekeliling saya. Setidaknya, dari suasana itulah ada banyak yang menginspirasi saya menemukan gagasan penciptaan, yang tak jarang menjadi sebuah karya. Tidak bisa saya membayangkan bila ternyata saya ditakdirkan lahir bukan di tengah suasana alam lingkungan seperti itu, alam lingkungan yang hanya ada di bumi Nusantara, Indonesia.

Alam lingkungan yang saya maksud terutama adalah manusia dan penciptaan budayanya. Terlebih lagi khazanah karya sastra yang dilahirkan oleh para sastrawan sejak sebelum atau saat proses lahirnya sebuah negara bernama Indonesia. Betapa saya takjub, pelukisan peristiwa dan pemikiran dalam bahasa yang mereka tuangkan sanggup menembus ruang dan waktu. Bahkan, kisah-kisah di dalamnya kerap masih relevan di tengah situasi kekinian, atau bahkan lagi di masa mendatang.

Karena itu saya merasa, mencintai karya sastra bukanlah berarti seseorang harus menjadi seorang penulis, pengamat atau kritikus. Melainkan, bagaimana karya sastra itu sanggup mengasah kepekaan kita pada rasa, intuisi, juga nurani. Jika saya bisa simpulkan dari perjalanan saya memasuki dunia kesenian, selain disebabkan tempat dimana saya berada dan dibesarkan, saya merasa juga dibentuk oleh buku bacaan, dalam hal ini karya sastra.

Sewaktu kecil dulu, masa kelas empat SD, di sekolah saya di Sukabumi kami diwajibkan membaca buku sastra. Waktu itu saya membaca novel “Layar Terkembang” karya Sutan Takdir Alihsyabana (Hatur nuhun dan Al-fatihah untuk alm guruku yang menyuruh saya membaca buku tersebut).

Itulah pertemuan pertama saya dengan karya sastra Indonesia. Pertemuan yang meninggalkan kesan yang dalam pada ingatan saya tentang kisah kedua tokoh dalam novel tersebut, kakak beradik Tuti dan Maria, juga kisah cinta di dalamnya. Pelukisan kisah di dalamnya, juga bahasa yang dituangkannya, membuat novel itu selalu menarik hati saya. Malah, sampai saya beranjak dewasa beberapa kali saya masih membaca lagi novel itu. Ternyata, pemahaman akan kisahnya bisa berbeda-beda, seiring dengan kedewasaan dan pengalaman hidup serta wawasan saya sebagai pembaca.

Dari berbagai pertemuan saya dengan karya sastra itulah, muncul gagasan mengadaptasi, menafsir, atau menginterpretasi karya sastra ke dalam bentuk pemanggungan. Mungkin ini yang oleh penyair Sapardi Djoko Damono disebut sebagai alih wahana. Mengalihkan teks karya sastra (prosa) menjadi peristiwa di atas panggung. Dalam alih wahana itu, persoalannya bagi saya bukan hanya semata proses menemukan bentuk atau konsep pertunjukannya, termasuk penyutradaraan atau keaktoran. Melainkan, juga tujuannya; sebagai ihtiar menyuarakan atau mensyiarkan apa yang telah ditulis oleh para sastrawan Indonesia.

Ada beberapa karya sastra yang telah saya alih wahanakan ke dalam bentuk pertunjukan di panggung; “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari, “Kuantar Ke Gerbang” karya Ramadhan KH, “Sukreni Gadis Bali” karya I Nyoman Panji Tisna, “Bumi Manusia” dan “Anak Segala Bangsa” karya Pramoedya Ananta Toer, atau, yang sekarang masih dalam proses, “Chairil Anwar” yang terinspirasi dari buku “Chairil” karya Hasan Aspahani—dan beberapa lagi karya sastra yang pernah saya adaptasi ke dalam bentuk alih wahana yang lain.

Bukan hanya hasilnya yang menggetarkan. Tetapi yang menarik adalah seluruh prosesnya.Termasuk proses memutuskan mana karya sastra yang dipilih untuk dipanggungkan. Semua proses itu biasanya lahir karena dua hal. Selain karena kekuatan karya itu dalam menginspirasi saya sehingga membayangkan peristiwa pemanggungannya, juga karena disebabkan oleh situasi ruang, waktu, juga alam sekeliling di mana saya berada.

Pada yang terakhir itu banyak rasa dan energi lain yang hadir seakan-akan mendorong dan terus membimbing saya, yang acapkali sulit saya jelaskan. Itu, misalnya, bisa berawal ketika saya tiba-tiba saja melihat sebuah novel. Setelah membacanya, di saat yang lain ketika saya berada dalam sebuah diskusi atau secara tak sengaja bertemu dengan suatu hal, anehnya semua itu ujungnya menuju ke arah novel tersebut.

Proses yang tak kalah menarik, ketika proses sebuah karya sastra sedang kami garap ke dalam produksi pertunjukan, sering saya menjadi dekat dengan keluarga sastrawan tersebut, bahkan dengan penulis itu sendiri. Bagaimana karya itu bisa lahir, lalu dilahirkan kembali dalam bentuk kehadirannya yang lain, semua seakan saling menemukan jodoh dan nasibnya sendiri.

Saya menyukai hal itu. Saya senang karena bisa mengetahui apa yang paling menyenangkan dalam hidup saya sebagai seniman, yaitu proses dan berproses. Setiap sebuah produksi selesai, maka itu bukanlah akhir, tetapi awal untuk kembali ke titik nol, menciptakan kembali sesuatu yang baru, dengan energi rasa yang baru, dengan aura dan energi yang baru. Dan saya merasa itu tak akan pernah ada habisnya sampai kelak saya menjadi nama belaka.

Saya sekarang diam dan terpaku sendiri. Mengapa saya harus menceritakan hal ini? Semata ingin berbagi tentang alam sekeliling, khazanah budaya, dan manusia Indonesia yang telah banyak memberi saya ide serta daya penciptaan. Yang semua itu menginspirasi semangat saya untuk terus berkarya, dan itulah yang akan saya terus lakukan demi mengungkapkan kekayaan khazanah karya sastra Indonesia. Khazanah yang telah menjelajahi masa silam dalam semua tragedinya, juga keindahan sebagai bentuk ungkapan cinta pada manusia dan alam Indonesia.

Ketika saya sampai di paragraf ini, hari sudah sore. Matahari kelihatan mulai lelah, warnanya sebentar menjadi merah kekuning-kuningan. Suasana yang memunculkan perasaan nglayut. Saya duduk merenung, membayangkan sosok-sosok yang sering muncul, baik itu dalam diskusi atau pertemuan, atau teks karya mereka tak sengaja saya temui.

Saya merasa Semesta memberi restu.**

0
0
1
2
3
0
0
2
1