Cerita @nay_wahid: Memberi Suara Melalui Teater

Cerita @nay_wahid: Memberi Suara Melalui Teater

Oleh : Inayah Wahid

Wagiyem lari tunggang langgang ketakutan saat rumahnya digeledah KPK. Wajahnya bercampur antara pucat ketakutan dan malu menghadapi tetangga. Suaminya yang lama merantau di Jakarta dan diyakininya sudah kawin lagi ternyata seorang koruptor. Kini Wagiyem yang cuma buruh cuci harian hanya bisa terisak menahan malu, dan geram.

Beberapa tahun lalu saya memainkan peran sebagai Wagiyem di salah satu pertunjukan Arcana Foundation. Seorang buruh cuci paruh baya dengan logatnya yang medok, ditinggal merantau suaminya dan tak pernah diberi nafkah lagi. Saat mempersiapkan diri sebagai Wagiyem saya menyadari bahwa ada begitu banyak Wagiyem-wagiyem lain di Indonesia yang bernasib serupa. Begitupun saat saya memerankan Bu Surti, buruh tani di suatu desa kecil yang kelimpungan mencari anak dan suaminya yang tak tentu kabarnya di Jakarta. Bu Surti atau Wagiyem adalah wajah yang sangat rutin kita temui di Indonesia. Mungkin saking rutinnya terkadang kita bahkan tidak sadar atau lupa kalau mereka ada. Mereka adalah wajah-wajah yang lewat sekelebatan saja di tengah hiruk-pikuk hidup kita.

Ada begitu banyak yang saya sukai dalam bekerja sebagai pelakon seni peran dalam dunia teater. Saya menyukai proses pembuatan dari yang sepotong-sepotong kemudian bergabung menyatu jadi harmoni dan pertunjukan yang indah. Saya suka ritual-ritual dalam proses pembuatan sebuah pertunjukan, mulai dari pendalaman karakter hingga rasa cemas yang tiap kali muncul saat akan naik panggung. Dari semua hal yang saya sukai dalam teater, mungkin salah satu yang paling kuat adalah karena saya merasa teater mampu memberi suara pada yang seringkali tak terdengar suaranya.

Wagiyem atau Surti atau Yeyen atau Sri atau siapalah itu namanya adalah wajah-wajah yang berada di seputar kita sehari-hari. Mungkin kita menyadari mereka ada, seringkali juga tidak. Tiap mereka punya ceritanya masing-masing, punya deritanya masing-masing, tapi nyaris tidak terdengar. Kadang bahkan kehadiran mereka tak diindahkan, atau malah kehadiran mereka dianggap mengganggu, tapi teater mampu memberi wajah-wajah ini wujud. Suara-suara, kerisauan-kerisauan dan penderitaan-penderitaan mereka yang biasanya tak terdengar oleh kita, lewat naskah-naskah pertunjukan menjadi jelas terdengar oleh penonton. Mereka menjadi suara yang diperhatikan.

Pengemis dan preman yang selama ini dihindari malah jadi tokoh utama dalam pementasan Teater Koma, Wiji Thukul yang lenyap begitu saja dapat muncul lagi gagasan-gagasannya lewat panggung pementasan. Nyai Ontosoroh yang cuma gundik bisa didengar lantang teriakannya di pementasan Bunga Penutup Abad. Tukang jamu, abang becak, pelacur, guru, bahkan yang bukan manusia sekalipun bisa jadi tokoh utama dalam pertunjukan teater. Siapa atau apa saja bisa, tak ada batasan. Mereka yang tadinya tak terlihat menjadi ada. Cerita mereka yang tadinya tak menarik menjadi narasi cantik yang kita tonton dari awal pertunjukan hingga akhir. Kita yang tadinya tak mengenal Wagiyem, Surti, Wiji atau Ontosoroh jadi merasa dekat dan terhubung dengan mereka. Mereka jadi manusia seutuhnya.

Bukan hanya memberi suara, tapi juga membantu kita memahami tokoh-tokoh tersebut. Bagaimana sudut pandang mereka, pola pikir mereka, hingga ke pilihan-pilihan yang mereka buat. Kita jadi lebih banyak belajar memahami orang lain. Kemampuan memahami orang lain ini akan membawa kita pada toleransi. Kita jadi mengerti dan berempati. Bukan lagi menghakimi.

Dalam sebuah forum mengenai teater Gus Dur pernah ditanya seorang mahasiswa yang beranggapan bahwa seni peran itu tidak penting, jadi tidak usah diberi perhatian terlalu besar. Gus Dur dengan tegas menolak hal tersebut dan dengan nada tegas mengatakan bahwa seni peran membantu manusia untuk belajar melihat dari sudut pandang yang berbeda, belajar meletakan diri kita pada posisi orang lain, sehingga kita tidak semena-mena menghakimi orang lain, terutama yang berbeda dengan kita. Singkatnya seni peran belajar membantu kita memahami manusia, dan menjadi manusia. Hal ini terjadi pada saat Gus Dur masih menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta sekitar tahun 80-an.

Kalau pada era tersebut Gus Dur menganggap penting untuk kita belajar bertoleransi dan tidak semena-mena menghakimi yang berbeda dengan kita melalui seni peran, saya yakin di era saat ini, dimana toleransi menjadi tergerus sedikit demi sedikit, dan kehadiran kelompok-kelompok yang suka menghakimi menjadi lebih sering muncul, maka kebutuhan untuk memunculkan kemanusiaan kita lewat pertunjukan teater jadi semakin penting, ya kan!

3
2
93
10
6
0
0
0
1