Mengenal Lebih Dalam “Galengan Sora Awi”

Mengenal Lebih Dalam “Galengan Sora Awi”

Oleh : Rizkyta Hadi

Sampurasun, barudak! Kumaha damang? Hehe. Sekali-kali ah, nyapanya pake Bahasa Sunda. Biar jadi anak yang cinta kultur banget, tapi da emang iya. Pasti kalian udah tau, kalau kesenian yang berasal dari tanah parahyangan itu udah banyak dikenal bahkan mendunia. Selain itu, banyak juga, lho, band-band yang mengkolaborasikan musiknya dengan kesenian sunda. Sebut saja Karinding Attack, Sarasvati, Authority (RIP), dan masih banyak lagi. Mantap jiwa!

Kenapa, sih, bisa sampai sehebat itu? Salah satu faktor pendukungnya bahwa Kota Bandung itu sendiri identik dengan sebutan “Kota Kreatif”-nya yang nggak pernah kehabisan stok kreasi di berbagai bidang. Ya, salah satunya adalah kesenian musik. Seiring dengan perkembangan zaman yang begitu cepat kayak angkutan umum  Enk Ink Enk jurusan Bandung-Garut, alhasil masyakarat kian akrab dengan macam-macam genre musik modern. Hal tersebut tentu bukan sesuatu yang buruk, karena para musisi bisa bereksplorasi dengan karyanya dan melebarkan sayap. Namun, ada beberapa hal yang terlupakan, salah satunya adalah keberadaan para musisi tradisional yang sepatutnya dihargai lebih atas usahanya mempertahankan nilai-nilai budanya. Maka dari itu, kita sebagai masyarakat yang mencintai kultur kita sendiri, harus bisa menghargai para musisi tradisional, jangan dipandang sebelah mata. Oke nggak mentemen? Hehe.

By the way, temen-temen pernah denger Galengan Sora Awi nggak? Nah, kalau belum, sini saya kasih tau. Jadi, Galengan Sora Awi itu adalah sebuah grup musik tradisional asal Bandung di mana mereka itu adalah salah satu kelompok musisi yang layak dan patut mendapatkan apresiasi tinggi. Sejak tahun 2007, Galengan Sora Awi konsisten berkarya lewat komposisi musik dari alat-alat bambu yang nggak jarang dikolaborasikan dengan sentuhan modern. Keren, kan? Grup ini beranggotakan Andi (baragbag), Cahya (gambang), Restu (gambang), Bah Gofar (goong celempung), Tiran (kohkol), Edi (karinding), Denny (suling), Bah Akim (tarompet), dan Lia (vokal). Di Galengan Sora Awi ini, ada salah satu pengrajin alat musik bambu, lho. Iya, dia adalah Bah Akim yang sekaligus juga merupakan pendiri dari grup musik tradisional ini. Salut! Jadi, Bah Akim itu adalah pengrajin kesenian alat musik bambu yang masih bertahan sampai saat ini.

Sebuah inisiatif kolektif yang peduli akan kebudayaan, yaitu Sudut Kota, ingin memperkenalkan lebih jauh lagi mengenai Galengan Sora Awi ini. Banyak banget hal-hal menarik yang bisa kamu dapetin dengan mengenal Galengan Sora Awi. Mulai dari keteguhan para personilnya dalam memperkenalkan musik bambunya melalui karya yang variatif, strategi mempertahankan eksistensinya, sampai jatuh bangunnya usaha produksi kerajinan bambu berskala kecil yang turun temurun. Sesuatu yang menarik, kan?

Yaudah, mari kita simak perkenalan yang udah dibikin sama kolektif Sudut Kota ini. Jangan lupa untuk selalui cintai dan lestarikan budaya kita. Kalau bukan kita, siapa lagi? Bijak gini euy saya. Hehehe. Selamat menikmati dan jangan lupa kasih tau temen-temen di lingkungan sekitar kamu. Biar makin nendang