Iman Soleh

Iman Soleh

Seniman Teater

Di balik terminal ledeng Bandung yang selalu ramai kendaraan dan banyaknya gang-gang sempit perumahan warga, terdapat sebuah kantung budaya yang masyarakat mengenalnya dengan nama CCL (Centre Culture of Ledeng). Markas komunitas CCL ini terasa begitu nyaman dengan hadirnya kicauan burung dan rimbunan pohon yang tumbuh di sekelilingnya. Saat tim www.indonesiakaya.com melakukan kunjungan di pertengahan Oktober 2013 lalu, panggung prosenium CCL nampak baru dan lebih tertata rapi. Dari panggung dan komunitas inilah seorang seniman bernama Iman Soleh belajar kesenian sejak kecil.

Ketika zaman bergerak mengubah Bandung menjadi lebih modern, Iman Soleh bersama komunitasnya tetap konsisten mempertahankan kebudayaan lewat jalan berkesenian. Iman Soleh mensyukuri hidup di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan yang banyak melakukan aktivitas kesenian. Gaya berkesenian RT/RW atau dalam lingkungan masjid sudah dilakoninya sejak SD. "Dulu waktu saya kecil, Acep Sugandi itu dalang wayang. Kemudian mang Apit adalah pemain longser, dan mang Didi pemain calung.

Kami hidup di lingkungan kesenian, dan lingkungan yang membentuk saya untuk berkesenian,kenang Iman Soleh.

Memasuki tahun 1983, Iman Soleh menjadi lebih serius dalam berkesenian. Ketika anak-anak muda seusia-nya bersaing dalam Sipenmaru memperebutkan bangku perguruan tinggi negeri, ia lebih memilih masuk ke STB (Study Club Teater Bandung). Dari sinilah Iman Soleh mengenal sosok Suyatna Anirun, pendiri STB, yang dianggapnya sebagai sosok guru dalam dunia teater. Setelah menyelesaikan pendidikannya di STB, Iman Soleh tidak berhenti berkesenian. Ia melanjutkan "sekolah" di berbagai komunitas besutan seniman-seniman teater yang sudah terlebih dahulu mapan, seperti Arifin C Noer, Teguh Karya, WS Rendra, dan Nano Riantiarno.

Iman Soleh bersama Putu Wijaya bahkan pernah pentas keliling ke 20 tempat di Indonesia. "Saya diuntungkan oleh keinginan Saya yang kuat sekali ingin belajar, apalagi di zaman Saya ada tradisi "nyantri" namanya. Saya menikmati benar sejarah orangtua-orangtua pendiri teater di masa lalu," kata Iman Soleh menceritakan awal mula sejarah pertemuannya dengan dunia teater. Dipilihnya seni teater sebagai jalan berkesenian bukan tanpa alasan.

Bagi Iman Soleh, seni teater merupakan sebuah tempat dimana berkesenian tidak menjadi terlalu personal dan ia harus juga mengenal yang lain. Modalnya paling primitif, yakni tubuhnya sendiri, pikiran, ucapan-ucapannya, dan tindakannya. Teater juga mengajarkan pada keberagaman sifat dan bentuk.

Seni teater di mata saya merupakan bentuk seni yang paling jujur jika dibandingkan dengan seni yang lain, bisa menjadi penyadaran bahkan perlawanan dari banyak hal.

Setelah sempat merasakan nyantri di berbagai komunitas teater, Iman Soleh dalam kurun waktu 1998 hingga 2006 berkesempatan mempelajari seni teater lebih dalam di berbagai negara asia maupun eropa, antara lain ia pernah belajar di Jepang, Philipina, dan Perancis. Bahkan, komunitas CCL pada 2007 berkesempatan main di lahore, Pakistan, serta berkolaborasi dalam pentas keliling bersama Sidetrack Theater dalam produksi The Tangled Garden yang dipentaskan di Jakarta dan Australia.

Bersama komunitasnya di CCL, Iman Soleh sudah menghasilkan berbagai karya pertunjukan antara lain, Air, Passage, Water Carier, Air Burung, Nenek Moyang, Bedol Desa, Ozone, Indonesia Menggugat, dan yang terakhir, Tanah Ode Kampung Kami. CCL atau Centre Culture of Ledeng, atau yang biasa disebut Iman Soleh dengan nama Celah-Celah Langit merupakan wadah kesenian yang dibangun di halaman rumahnya.

Pemberian nama tersebut baru ada di tahun 1998. Namun, kegiatan kesenian di kampung budaya ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1985. Saat itu, Iman Soleh menyadari kurangnya ruang-ruang kebudayaan di Indonesia dan berbagai kelompok kesenian yang mengajarkan tentang kemandirian dan pembentukan karakter. Dari sanalah kemudian Iman Soleh mempunyai insiatif untuk membangun sebuah kantung kebudayaan sebagai wadah berkesenian tepat di halaman rumahnya. "Dulu pada saat Orde baru, kami disebutnya OTB (Organisasi Tanpa Bentuk), Saya sendiri pernah dari dalam rumah ditangkap gara-gara pertunjukkan," kenang Iman Soleh sambil tertawa mengingat masa-masa itu.

Iman Soleh menyadari dan mengalami sendiri bagaimana rezim Orde baru mencoba mengkerdilkan segala bentuk kesenian rakyat. Saat itu berbagai kelompok teater yang ingin menggelar sebuah pertunjukkan harus melapor ke polsek dan koramil. Mereka harus tahu terlebih dahulu apa naskahnya, apa judulnya, apa isinya. Saat itu, kebebasan berekspresi, berpendapat, dan berserikat sangat buruk di Indonesia. Namun Iman Soleh terus berjuang bersama rakyat yang terbungkam untuk tetap berkesenian lewat jalan seni teater, mengingat seni teater mampu menyatakan segala bentuk protes secara langsung.

Tak dapat dipungkiri, naskah-naskah karya Iman Soleh selalu membawa suara-suara kecil masyarakat, manyajikan potongan-potongan adegan yang lekat hubungannya dengan masyarakat, sekaligus memasukkan unsur-unsur tradisi lokal Sunda ke dalam pementasan. Sehingga pertunjukkan teater tidak menjadi sesuatu yang asing, yang asik sendiri di dalam masyarakat sebagai konteks pementasan. Tanah Ode Kampung Kami misalnya, merupakan representasi protes Iman Soleh dan komunitasnya terhadap UU pertanian di Indonesia.

Petani di negeri ini tidak terjamin kesejahteraannya, padahal Indonesia sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang agraris. Petani tidak memiliki tanah, kalau pun punya, mereka dihadapkan dengan persoalan lain; menjual tanah atau selamanya menjadi petani walaupun tidak sejahtera. Alhasil Indonesia akan selalu mengimpor beras, meskipun Indonesia sesungguhnya mampu menghadirkan ketahanan pangan yang kuat.

Mencintai (Kembali) Tradisi Indonesia

Dalam berbagai pementasan, Iman Soleh bersama CCL kerap memasukan warna-warna lokal Sunda sebagai sentuhan estetisnya. Hal tersebut dilakukan tentu untuk mempertahankan kekayaan tradisi yang dimilikinya. Bagi Iman Soleh, Molliere dan Shakespare sangat tradisional, naskah-naskah teater yang dilahirkannya membicarakan tentang tradisi. Romeo and Juliet misalnya, menceritakan tentang dua keluarga dalam tradisi Inggris yang sangat kuat.

Iman Soleh menyayangkan sikap masyarakat yang tidak pernah mempelajari apa yang dimilikinya, tidak pernah memuliakan apa yang menjadi akar tradisinya, dan cenderung hidup kepada apa yang disebut sebagai pola kehidupan barat. Selama belajar di berbagai negara di Eropa, Iman Soleh menyadari betapa tradisionalnya pola hidup mereka (orang Eropa), dan sebaliknya betapa modernnya manusia Indonesia.

Masyarakat Eropa besar dalam tradisi aksara, mereka mencatat, sedangkan masyarakat Indonesia tidak demikian. Masyarakat Indonesia cenderung kontemporer, yang besar dalam tradisi lisan. Didirikannya kampung budaya CCL merupakan sebuah usaha untuk mengembalikan lagi seni tradisi kepada masyarakat di tengah cepatnya gerak laju perubahan zaman. Panggung CCL yang menyatu dengan halaman rumah juga merupakan representasi dari kuatnya seni tradisi di lingkungan masyarakat Ledeng. Sehingga, seniman dan penonton tidak berjarak, dan seni tidak asik sendiri, mengingat dalam berbagai bentuk seni tradisi, penonton juga merupakan bagian dari kesenian itu sendiri.

Betapa pentingnya bagi Iman Soleh mempertahankan akar tradisi keIndonesiaan kita, mengingat Indonesia sangat besar sekali, saking besarnya bangsa ini mempunyai beban yang teramat berat. Namun patut disyukuri, Indonesia mempunyai tradisi toleransi yang sangat kuat, tradisi yang sudah mengakar di jalan kebudayaan orang Indonesia. Paling tidak, Iman Soleh mengingatkan anak-anak muda saat ini untuk kembali mencintai Indonesia. Kalau tidak bisa percaya pada pemerintah, paling tidak mereka bisa percaya pada dirinya sendiri, pada tetangganya, sehingga menimbulkan sikap saling percaya di lingkungan masyarakat, dan percaya pada keIndonesiaan yang dimilikinya. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]